Rusia Cabut dari RI, ‘Harta Karun’ Natuna Jadi Incaran Dunia

Jakarta, CNBC Indonesia –¬†Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan proses pencarian operator pengganti perusahaan minyak dan gas bumi (migas) asal Rusia, Zarubezhneft, di Blok Tuna yang berada di Laut Natuna Utara, sebelah perbatasan Indonesia-Vietnam, masih berlangsung.

Koordinator Pokja Pengembangan Wilayah Kerja (WK) Migas Konvensional Maruf Affandi mengatakan, saat ini operator Blok Tuna yakni Harbour Energy masih dalam proses pencarian partner melalui pembukaan data room di Blok Tuna. Adapun dari proses tersebut diketahui banyak para calon mitra yang tertarik masuk untuk menggantikan Zarubezhneft.

“Proses ini terus berjalan. Kami update beberapa calon mitra yang mau masuk baik dari lokal, maksud kami dari perusahaan Indonesia, atau luar negeri,” kata dia dalam Konferensi Pers di Jakarta, Selasa (16/1/2024).

Sebagaimana diketahui, Blok Tuna sendiri dikelola oleh perusahaan asal Inggris Harbour Energy melalui Premier Oil Tuna B.V. Sementara Zarubezhneft sendiri merupakan perusahaan migas milik pemerintah Rusia yang memegang hak partisipasi sebesar 50% di Blok Tuna melalui anak usahanya, ZN Asia Ltd.

Ia pun berharap proses peralihan hak partisipasi Zarubezhneft di Blok Tuna dapat segera tuntas pada pertengahan tahun ini. Dengan demikian, wilayah kerja yang mengandung gas tersebut dapat segera berproduksi.

“Berharap di mid years bisa ditunjuk pengganti perusahaan Rusia tersebut,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Kepala SKK Migas Nanang Abdul Manaf mengungkapkan proses pencarian operator pengganti Zarubezhneft di Blok Tuna masih berlangsung.

Nanang pun berharap proses divestasi Zarubezhneft di Blok Tuna dapat segera tuntas pada tahun ini. Pasalnya, gas yang diproduksikan dari Blok Tuna sendiri telah memiliki calon pembeli dari Vietnam.

“Kalau gasnya nanti rencananya akan disalurkan ke Vietnam. Memang ada batas waktu ya, mudah mudahan di tahun ini selesai dari kepastian siapa,” ujar Nanang ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Selasa (2/1/2024).

Beberapa waktu lalu, Nanang membeberkan rencana pengembangan Blok Tuna yang dioperatori oleh perusahaan asal Inggris Harbour Energy melalui Premier Oil Tuna B.V. terimbas sanksi Uni Eropa dan Pemerintah Inggris. Pasalnya, partner mereka di blok tersebut yakni Zarubezhneft berasal dari Rusia.

Oleh sebab itu, Zarubezhneft pun akhirnya memutuskan untuk hengkang dari proyek tersebut. Mengingat, Harbour Energy telah diwanti-wanti oleh pemerintah setempat untuk tidak bertransaksi apalagi bermitra dengan perusahaan asal Rusia. https://kolechai.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*